Membeda Keunikan Manajemen Masjid di UAE

Penulis: Agus Sulistiyo

Ramadhan telah berlalu, namun vibes dan aroma kesyahduan masjid rasanya masih terbayang di dalam benak kita. Apalagi bagi Penulis, karena Ramadhan 1446 H adalah bulan puasa pertama kali di United Arab Emirates (UAE). Apa saja sih yang membedakan antara masjid di UAE dan di Indonesia? Berikut beberapa hal yang Penulis rasakan.

Arsitektur

Masjid di UAE cenderung mengadopsi gaya arsitektur Islam klasik dengan sentuhan modern megah. Kubah besar, menara ramping, dan dinding berlapis marmer atau emas menjadi ciri khas, seperti terlihat di Masjid Sheikh Zayed. Ornamen kaligrafi ayat-ayat Al Qur’an dipahat dengan presisi laser, menciptakan kesan monumental. Sementara di Indonesia, masjid lebih banyak memadukan unsur lokal: atap tajug (Jawa), limas (Sumatera), atau kubah bawang bergaya Ottoman dengan kayu jati ukir. Materialnya pun lebih sederhana, seperti bata merah, kayu, atau bambu, seperti Masjid Demak atau Masjid Tiban di Malang. Perbedaan ini seolah mencerminkan identitas, dimana UAE mengejar kemegahan sebagai simbol kemajuan, sedangkan Indonesia mempertahankan akar budaya sebagai bentuk syukur. 

Pendingin Ruangan 

Iklim ekstrem UAE mengharuskan setiap masjid dilengkapi AC sentral berkekuatan tinggi, bahkan di masjid kecil sekalipun. Karpet tebal berbulu halus dan dinding berlapis marmer menjadikan ruang sholat nyaman layaknya hotel bintang lima. Di Indonesia, pendingin ruangan umumnya hanya ada di masjid perkotaan besar. Di pedesaan, masjid mengandalkan sirkulasi udara alami dari jendela dan kipas angin. Nuansa “adem ayem” masjid Indonesia justru sering dianggap lebih membumi, dengan suara gemericik air wudhu atau desau angin yang mengiringi lantunan ayat suci. 

Fasilitas untuk Difabel

Hampir semua masjid di UAE dilengkapi akses khusus difabel: jalan landai, lift, hingga tempat sholat di lantai dasar yang luas. Toilet dan area wudhu juga dirancang ergonomis dengan pegangan besi. Di Indonesia, fasilitas ini masih terbatas di masjid-masjid perkotaan besar. Di pedesaan, tangga curam dan lantai berkarpet bertingkat sering menyulitkan jamaah difabel. Namun, masyarakat Indonesia menyiasatinya dengan gotong royong mengangkat kursi roda atau membantu jamaah difabel di area wudhu.

Teknologi Digital

Masjid di UAE memanfaatkan teknologi canggih: layar LCD untuk penunjuk waktu sholat, aplikasi reservasi tempat sholat Jum’at, hingga sensor suhu otomatis di AC. Bahkan, beberapa masjid menggunakan sistem AI untuk menghitung jumlah jamaah. Di Indonesia, teknologi masih terbatas pada speaker dan lampu tanda waktu sholat. Namun, kreativitas lokal muncul melalui siaran langsung pengajian di YouTube atau grup WhatsApp untuk koordinasi kegiatan masjid. 

Al Qur’an Berjajar di Shaf Terdepan 

Keberadaan Al Qur’an di masjid tentu merupakan hal biasa. Namun, penempatannya di UAE dan Indonesia memiliki filosofi yang unik. Di mayoritas masjid UAE, shaf pertama sengaja dikosongkan dari jamaah dan dialihfungsikan sebagai “rak hidup” untuk Al Qur’an. Puluhan mushaf berukuran sedang diletakkan di atas dampar (penyangga kayu, terkadang berlapis kain) yang disusun rapi. Barisan kitab suci ini seolah menjadi pembatas sakral antara jamaah dan dinding kiblat, sekaligus simbol bahwa Al Qur’an adalah pedoman utama yang mendahului segala aktivitas ibadah. Khusus pada sholat Jum’at dan Ramadhan, dampar digeser ke depan agar shaf pertama bisa digunakan.

Sementara di Indonesia, Al Qur’an lebih sering ditempatkan di rak dinding atau lemari dekat mimbar, sehingga shaf terdepan tetap menjadi area sholat. Perbedaan ini mungkin mencerminkan prioritas: di UAE, kemudahan akses tilawah dipadukan dengan estetika; sementara di Indonesia, penghematan ruang dan fleksibilitas lebih diutamakan. 

Imam dan Marbot Masjid Dibiayai Pemerintah

Di UAE, posisi imam dan marbot (penjaga masjid) tidak sekadar tugas sukarela, melainkan profesi resmi yang digaji negara. Pemerintah melalui Ministry of Islamic Affairs merekrut, melatih, dan menempatkan mereka di masjid-masjid dengan standar kompetensi ketat. Banyak imam masjid yang berasal dari luar UAE, bahkan Indonesia. Di Emirate Abu Dhabi misalnya, imam masjid asal Indonesia mencapai puluhan jumlahnya. Imam wajib hafal seluruh Al Qur’an dan lulus ujian kefasihan bahasa Arab. Sementara marbot bertanggung jawab atas kebersihan, keamanan, serta pengaturan logistik seperti distribusi air minum dan kurma selama Ramadhan.

Berbeda dengan di Indonesia, dimana imam dan marbot biasanya dipilih oleh takmir masjid atau masyarakat setempat, dengan honorarium yang bersumber dari infak jamaah. Sistem ini membuat pengelolaan masjid di UAE terasa lebih terstruktur, sementara di Indonesia, nuansa gotong royong dan kedekatan emosional antara jamaah dengan pengurus lebih menonjol. 

Adzan Tersentral dan Direlay oleh Kementerian Masjid 

Keseragaman waktu sholat di UAE dimungkinkan oleh sistem adzan terpusat yang diatur Kementerian. Saat waktu sholat tiba, adzan dikumandangkan dari masjid agung di setiap emirat, lalu disiarkan serempak ke seluruh masjid melalui pengeras suara. Hasilnya, lantunan adzan terdengar kompak seperti paduan suara yang menyelimuti kota. Di Indonesia, adzan tetap menjadi otoritas masing-masing masjid, sehingga selisih 1-2 menit antar masjid kerap terjadi. Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tetapi juga merefleksikan budaya: UAE menekankan keseragaman sebagai simbol persatuan, sementara Indonesia mempertahankan keragaman sebagai cerminan kearifan lokal.

Di UAE, jeda antara adzan dan iqomah ditetapkan pemerintah selama 20 menit untuk sholat wajib, kecuali Subuh (25 menit), dan Maghrib (5 menit). Interval ini memungkinkan jamaah menyelesaikan aktivitas tanpa terburu-buru. Di Indonesia, jeda ini sangat variatif—mulai dari 10 menit di perkotaan hingga terkadang 30 menit di pedesaan, tergantung kebiasaan setempat. Bagi sebagian orang, jeda panjang di Indonesia justru memberi waktu untuk membaca Al Qur’an atau bersilahturahmi. 

Sholat Jum’at Pukul 13.15, dengan Materi Khutbah Seragam

Sholat Jum’at di UAE selalu dimulai pukul 13.15 sepanjang tahun, disesuaikan dengan posisi matahari di wilayah gurun. Di Indonesia, waktu Jum’at bervariasi antar daerah, mulai dari pukul 11.30 di Aceh hingga 12.45 di Papua. Perbedaan ini mengajarkan kita tentang keindahan fiqih yang lentur, menyesuaikan konteks geografis tanpa kehilangan makna ibadah. Khutbah Jum’at di UAE mengikuti tema yang ditetapkan Kementerian, dengan naskah disiapkan para ulama terpercaya. Tujuannya menjaga keseragaman pesan dan mencegah penyampaian ide ekstrem. Di Indonesia, khutbah lebih personal, dimana setiap khatib bebas memilih tema, asalkan sesuai pedoman Kemterian Agama. Hal ini memunculkan warna-warni khutbah, dari yang penuh kisah inspiratif hingga analisis sosial-politik. 

Buka Puasa Bersama

Buka puasa di masjid UAE diramaikan dengan hidangan mewah: kurma premium, air zamzam, dan makanan khas Timur Tengah seperti lamb ouzi (nasi dengan domba), yang disediakan pemerintah untuk ribuan jamaah. Jamaah duduk di karpet bersih dengan nampan individual. Di Indonesia, buka puasa lebih sederhana tetapi meriah: takjil dibagi dalam kotak plastik atau daun pisang, dengan menu lokal seperti kolak, gorengan, atau bubur kacang hijau. Masyarakat saling berebut menyiapkan hidangan, menciptakan kebersamaan yang cair. 

Aktivitas 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Tradisi sholat tarawih di UAE mencapai puncaknya pada 10 malam terakhir Ramadhan, dimana digelar qiyamullail berjamaah di seluruh masjid. Namun waktunya terbatas, hanya sekitar satu jam mulai pukul 00.00 dan berakhir pukul 01.00. Kemudian jamaah kembali ke rumah masing-masing. Di Indonesia, meski qiyamullail juga digalakkan, pelaksanaannya lebih mandiri dan menyatu dengan kegiatan i’tikaf.

Donasi dan Pembiayaan

Masjid di UAE sepenuhnya dibiayai pemerintah, sehingga kotak infak jarang ditemukan. Dana dialokasikan untuk pemeliharaan, listrik, hingga air mineral kemasan. Sebaliknya, masjid di Indonesia bertumpu pada donasi masyarakat: kotak amal di setiap sudut, penggalian dana via pengajian, hingga sistem “jimpitan” (iuran mingguan). Transparansi keuangan pun dikelola secara mandiri oleh takmir, kadang dipajang di papan pengumuman. 

Pakaian

Di UAE, jamaah perempuan diwajibkan mengenakan abaya hitam dan kerudung yang menutupi dada sebelum masuk masjid. Beberapa masjid besar bahkan menyediakan abaya gratis di pintu masuk bagi pengunjung. Aturan ini berlaku ketat, termasuk untuk turis. Sebaliknya, di Indonesia, meski kerudung dan pakaian tertutup dianjurkan, tidak ada aturan baku. Jamaah perempuan bisa sholat dengan mukena warna-warni atau bahkan baju panjang biasa, asalkan menutup aurat. Kelonggaran ini membuat masjid Indonesia terasa lebih “ramah” bagi perempuan dari beragam latar belakang. 

Peran Masjid dalam Kegiatan Sosial

Di Indonesia, masjid sering menjadi pusat kegiatan sosial: posko bencana, pasar murah, hingga tempat pengobatan gratis. Program seperti “Masjid Ramah Anak” atau “Bank Sampah Masjid” menunjukkan integrasi masjid dengan kebutuhan masyarakat. Sementara di UAE, kegiatan masjid lebih terfokus pada ibadah ritual. Program sosial seperti distribusi makanan atau bantuan finansial biasanya dikelola lembaga pemerintah terpisah, seperti Emirates Red Crescent. 

Interaksi dengan Non-Muslim

Masjid di UAE, terutama yang ikonik seperti Sheikh Zayed, terbuka untuk turis non-Muslim di luar waktu sholat. Pemandu profesional menjelaskan sejarah Islam dengan multibahasa, lengkap dengan brosur edukatif. Di Indonesia, meski non-Muslim boleh masuk masjid, jarang ada program terstruktur untuk pengunjung asing. Namun, masyarakat lokal kerap mengajak tamu non-Muslim untuk sekadar melihat atau berdiskusi tentang Islam dengan cara santai. 

Penutup

Perbedaan pengelolaan masjid antara UAE dan Indonesia bukanlah pertanda mana yang lebih baik, melainkan cerminan konteks budaya, iklim, dan sistem pemerintahan. UAE dengan pendekatan terpusat dan fasilitas mewah menawarkan kenyamanan ibadah yang presisi. Sementara Indonesia, dengan nuansa gotong royong dan keragaman lokalnya, menjadikan masjid sebagai ruang hidup yang bernyawa. Keduanya adalah manifestasi indah dari kesatuan umat dalam keragaman cara. Dari arsitektur hingga peran sosial, setiap perbedaan antara masjid UAE dan Indonesia adalah mozaik keindahan Islam yang beradaptasi dengan konteksnya. UAE menampilkan Islam yang terstruktur dan futuristik, sementara Indonesia memeluknya dengan hangat dalam keberagaman. Keduanya, dalam caranya sendiri, menjadi mercusuar spiritual yang mengajarkan kita bahwa masjid bukan sekadar bangunan, tetapi denyut nadi kehidupan umat. 

—————————————————

Agus Sulistiyo adalah analis kinerja organisasi di salah satu Instansi Pusat. Saat ini ia tengah memperdalam pengetahuan dan keahliannya sebagai kandidat Doktor Administrasi Bisnis di Abu Dhabi University, UAE, dengan dukungan beasiswa LPDP.