Fenomena #KaburAjaDulu: Ketika Generasi Muda Memilih Pergi Daripada Bertahan

Penulis: Ashim Romadhony

“Daripada stres nyari kerja di indo, mending kabur ke LN aja deh.”

Kalimat seperti ini kerap berseliweran di media sosial, utamanya di akun-akun anak muda yang merasa hidup di Indonesia semakin sulit. Bukan hanya lelucon atau bentuk pelarian sesaat, pernyataan ini mencerminkan keresahan nyata: banyak generasi muda Indonesia lebih memilih pergi ke luar negeri untuk belajar, bekerja, bahkan menetap, ketimbang berjuang di negeri sendiri.

Apa Itu #KaburAjaDulu?

Tagar #KaburAjaDulu mencuat sebagai cermin dari rasa frustrasi generasi muda terhadap situasi di dalam negeri. Tagar ini mengemas kritik dalam bentuk humor dan sindiran, namun sejatinya menunjukkan fenomena serius: meningkatnya minat anak muda Indonesia untuk mencari kehidupan yang “lebih layak” di luar negeri.

Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan laporan World Bank menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam negara dengan tingkat brain drain cukup tinggi di Asia Tenggara. Banyak talenta muda yang melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri, namun tidak kembali. Istilah brain drain merujuk pada hilangnya sumber daya manusia unggul karena mereka lebih memilih berkarya di negara lain yang menawarkan lingkungan yang lebih mendukung.

Akar Masalah: Kenapa Mereka Pergi?

Pertama, minimnya peluang kerja yang layak di Indonesia menjadi pemicu utama. Banyak lulusan universitas terkemuka yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi mereka, apalagi dengan gaji yang memadai.

Kedua, biaya hidup di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung terus melonjak tanpa diimbangi kenaikan upah yang berarti.

Ketiga, ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah membuat banyak anak muda dari luar Jawa merasa peluang mereka terbatas.

Tak kalah penting, dukungan negara terhadap riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia masih belum maksimal. Hal ini membuat banyak anak muda yang punya potensi merasa tidak punya ruang untuk tumbuh.

Mengapa Ini Jadi Masalah Nasional?

Fenomena brain drain bukan hanya kehilangan individu, tetapi kehilangan masa depan. Talenta muda adalah aset strategis bangsa. Ketika mereka memilih pergi dan tidak kembali, negara kehilangan kontribusi besar dalam sektor ekonomi, pendidikan, dan inovasi.

Ironisnya, negara-negara lain yang menerima mereka justru memanen hasil dari investasi pendidikan yang dilakukan Indonesia sejak awal. Lebih buruk lagi, jika kondisi ini terus dibiarkan, daya saing Indonesia secara global bisa terus menurun.

Harus Bagaimana?

Solusinya tentu tidak bisa instan. Tapi ada beberapa langkah konkret yang bisa ditempuh:

  • Perbaikan sistem birokrasi dan regulasi ketenagakerjaan, agar dunia kerja lebih terbuka dan adil bagi anak muda.
  • Penciptaan ekosistem kerja yang suportif, bukan hanya dari segi gaji, tapi juga fleksibilitas, jenjang karier, dan kesehatan mental.
  • Dukungan pada pendidikan lanjut dan riset dengan beasiswa yang terintegrasi dengan rencana pemanfaatan SDM pasca studi.
  • Pemanfaatan diaspora bukan sebagai pengkhianat, tetapi sebagai penghubung. Anak-anak muda yang sudah di luar negeri bisa dijadikan jembatan untuk kolaborasi riset, bisnis, dan teknologi dengan tanah air.

Penutup: Menciptakan Alasan untuk Kembali

Meninggalkan tanah air bukanlah dosa, dan ingin hidup lebih baik adalah hak setiap individu. Tapi akan lebih baik jika negara mampu menciptakan alasan yang cukup kuat bagi mereka untuk kembali. Karena pada akhirnya, membangun Indonesia tidak hanya dilakukan oleh mereka yang tinggal, tapi juga oleh mereka yang pulang.